Monday, March 3, 2014

SISTEM STARTER

FUNGSI
Sebagai Penggerak mula, ketika mesin pertama kali di nyalakan

TERDAPAT 3 JENIS SISTEM STARTER

1. TIPE PLANETARY

Pada starter tipe ini menggunakan tiga buah gear sebagai penopang poros armature juga sebagai penggerak armature itu sendiri sebelum memutar kopling dan pinion gear.







 2. TIPE REDUKSI

Pada starter tipe ini terdapat gear-gear yang saling mereduksi dari kumparan armature hingga ke gear pada poros kopling








3. TIPE KONVENSIONAL


Pada starter tipe ini hanya terdapat satu buah gear yaitu pinion gear yang akan terhubung ke fly wheel gear ketika drive lever mendorong gear tersebut saat starter berputar







URAIAN
Untuk mempersempit materi bahasan tentang sistem starter, blogger hanya akan membahas tentang sistem starter tipe konvensional saja. seperti gambar di bawah ini.
KETERANGAN GAMBAR
1. SWITCH STARTER
2. PEGAS PLUNYER
3. PLUNYER
4. DRIVE LEVER
5. FRONT HOUSING 
6. PINION GEAR
7. STOP COLAR
8. ARMATURE
9. RING PENAHAN 
10.REAR HOUSING
11.BRUSH HOLDER
12.FIELD COIL
13.BRUSH
14.BOLD HOLDER
 






KOMPONEN BESAR UTAMA SISTEM STARTER

1. KUMPARAN MEDAN (FIELD COIL)
    Fungsi : Untuk menimbulkan medan magnet dalam arah mendatar










2. KUMPARAN JANGKAR (ARMATURE)
    Fungsi : Untuk menimbulkan medan magnet dalam arah melingkar

    







Pada armature terdapat komponen, yaitu :   
    1. KOMUTATOR
        Fungsi : Untuk kedudukan sikat arang karbon (Brush)
    2. STARTER CLUTCH
        Fungsi : Untuk mencegah putaran berlebih dari motor starter
    3. PINION GEAR
        Fungsi : Untuk memutar roda gigi fly wheel
          

3. RANGKAIAN SIKAT DAN SIKAT
    Fungsi : sebagai tempat kedudukan sikat dan juga untuk mengalirkan arus listrik kedalam rangkaian starter










4. SWITCH STARTER
    Fungsi : Untuk menghubung dan memutuskan arus litrik yang mengalir pada pada rangkaian

Terdapat 3 Terminal pada switch starter yaitu : 30, 50 dan C
dan juga terdapat dua buah gulungan utama yaitu : Pull in Coil dan Hold in Coil






 5. DRIVE LEVER
    Fungsi : Untuk menghantarkan atau mendorong pinion gear terhubung ke fly wheel gear

CARA KERJA SISTEM STARTER DALAM RANGKAIAN

  

Ketika kunci kontak di ON kan, arus listrik dari baterai mengalir melewati rangkaian sikring lalu ke terminal 50 dari switch starter.
bersamaan dengan itu ada pula sebagian arus listrik yang mengalir ke terminal 30 dari switch starter yang dapat menimbulkan kemagnetan dari kumparan Pull in Coil dan Hold in Coil dari switch starter yang menarik plunyer switch starter sehingga drivel lever mendorong kopling dan pinion gear ke fly wheel gear

PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM STARTER
1. LAKUKAN PENGUKURAN PADA KUMPARAN JANGKAR (ARMATURE)
a. Pengukuran komutator hubungan terbuka  
Jika terdapat hubungan, maka armature baik namun jika tidak terdapat hubungan maka kontinuitas armature putus







 b. Pengukuran komutator hubungan masa

Jika tidak terdapat huungan maka armature baik, namun jika terdapat hubungan maka kontinuitas armature bocor







2. LAKUKAN PENGUKURAN PADA FIELD COIL
c. Pengukuran sirkuit Field Coil hubungan terbuka

Jika terdapat hubungan maka field coil baik namun jika tidak terdapat hubungan maka continuitas field coil putus







d. Pengukuran sirkuit Field Coil hubungan massa

Jika tidak terdapat hubungan maka field coil baik namun jika terdapat hubungan maka continuitas dari field coil bocor







3. LAKUKAN PENGUKURAN PANJANG SIKAT DAN RANGKAIAN SIKAT



Panjang sikat yang diukur tergantung dari tipe starter yang  di  gunakan oleh kendaraan masing-masing namun jika sikat masih panjang dan kondisinya masih baik (belum aus dan rompal) tidak perlu diganti







Pada Pengukuran isolasi sikat seharusnya tida ada hubungan namun jika ada hubungan maka rangkaian sikat harus di ganti






4. LAKUKAN PEMERIKSAAN STARTER CLUTCH DAN PINION GEAR










KERUSAKAN - KERUSAKAN MOTOR STARTER
1. Rangkaian sikat dan sikat sudah aus atau putus
2. Kumparan switch starter rusak
3. kumparan Field Coil Bocor atau putus
3. Sepatu kutub terbakar
3. Sikring putus
4. Baterai soak

SISTEM PENGISIAN

ALTERNATOR
Fungsi : Untuk melakukan pengisian kembali tegangan baterai




















KOMPONEN BESAR UTAMA ALTERNATOR


1. ROTOR terdiri dari :
    1..MUR PENGIKAT
    2. PULI
    3. FAN
    4. FRONT HOUSING
    5. ROTOR COIL
    6. SLIP RING
    7. BANTALAN


2. STATOR terdiri dari :
    1. STATOR COIL
    2. DIODE ( + / - )
    3. BRUSH HOLDER
    4. BRUSH
    5. REAR HOUSING

3. REGULATOR
      Fungsi : Untuk memasukkan arus listrik kedalam kumparan rotor, meskipun putarannya berubah-ubah.


















CHART REGULATOR 6 TERMINAL
 

KETERANGAN TERMINAL

TERMINAL B (BATTERY / BATERAI)
TERMINAL N (NEUTRAL / NETRAL)
TERMINAL L (LAMP / LAMPU)
TERMINAL IG (IGNITION / PENGAPIAN)
TERMINAL F (FUSE / SIKRING)
TERMINAL E (EMITTANCE / EMITTER)

CARA KERJA SISTEM PENGISIAN DALAM RANGKAIAN
PERHATIKAN ANIMASI BERIKUT

PERAWATAN DAN PERBAIKAN ALTERNATOR 
1. PERIKSA CONTINUITAS OPEN CIRCUIT ROTOR COIL

 Periksa hubungan terbuka rotor coil, jika ada hubungan (Baik), jika tidak ada hubungan (Putus)
 2. PERIKSA CONTINUITAS MASSA ROTOR COIL
Periksa hubungan massa dari rotor coil, jika ada hubungan (Bocor), jika tidak ada hubungan (Baik)







3. PERIKSA DIAMETER SLIPRING
Periksa diameter slipring dari keausan akibat gesekan dengan brush, Diameter standart dari slipring tergantung dari sfesifikasi pabrik, jika sudah aus (Ganti baru)
 4. PERIKSA CONTINUITAS OPEN CIRCUIT STATOR COIL
Periksa hubungan terbuka stator coil, jika ada hubungan (Baik), jika tidak ada hubungan (Putus)







 5. PERIKSA CONTINUITAS MASSA STATOR COIL
Periksa stator coil hubungan massa, jika ada hubungan (Bocor), jika tida ada hubungan (Baik)
6. PERIKSA CONTINUITAS DIODA (+) DAN DIODA (-)
 
Periksa  hubungan dioda (+) dan dioda (-), jika salah satu ada hubungan berarti kondisi dioda (Baik)
 7. PERIKSA PANJANG SIKAT
Ukur panjang sikat (sesuai sfesikasi pabrik) jika sudah aus, terbakar atau rusak (Ganti baru)
 KERUSAKAN-KERUSAKAN ALTERNATOR
1. ROTOR COIL PUTUS/TERBAKAR
2. STATOR COIL PUTUS/TERBAKAR
3. DIODA TELAH PUTUS/TERBAKAR
4. REGULATOR COIL RUSAK ATAU TERBAKAR 
5. BRUSH DAN BRUSH HOLDER PUTUS
6. BEARING AUS ATAU RUSAK

SISTEM SUSPENSI

FUNGSI
Untuk meredam kejutan yang disebabkan oleh permukaan jalan yang tidak rata

PADA UMUMNYA SUSPENSI TERSUSUN DARI DUA BAGIAN UTAMA, YAITU :
1. PEGAS
    Pegas secara langsung menahan kejutan yang terjadi. Pegas mempunyai sisfat elastis untuk menahan kejut,

JENIS-JENIS PEGAS DIBAGI TIGA, YAITU :
1. PEGAS DAUN (LEAF SPRING)
    Pegas ini terdiri atas lapisan plat baja yang diikat atau disusun menjadi satu. Susunan dimulai dari pegas yang pendek yang terletak dibagian bawah dan disatukan denganjalan di keling atau dibaut bagian tengahnya. Bagian pegas yang panjang dibulatkan membuat mata pegas  untuk pemasangan pegas pada rangka.

2. PEGAS COIL (COIL SPRING)
    Pegas ini mempunyai tahanan atau redaman kejutan yang lebih baik dibandingkan dengan pegas daun yang tidak terjadi gesekan anatau pegas yang menyebabkan getaran pada body.

3. PEGAS BATANG TORSI (TORSION BAR SPRING)
    Pegas ini umumnya digunakan oleh  mobil-mobil kecil pada suspensi depan. Pegas ini tebuat dari baja elastis  yang mampu menahan puntiran yang terjadi. Bila salah satu ujung pegas diikat dengan keras dan ujung lain dipasang pada arm maka saat arm bergerak naik turun, batang akan menahan gerakan ini sehingga menghasilkan efek penyerapan kejutan yang terjadi

2. SHOCKABRSORBER
    Shockabsorber dirancang untuk meredam, oksilasi pegas akibat kejutan sehingga kendaraan akan aman dan nyaman.
1. JENIS-JENIS ABSORBER
Jenis-jenis absorber dibedakan berdasarkan
a. Cara kerjanya
    - Kerja Tunggal (Single Action)
    - Kerja Ganda ( Multiple Action)
b. Konstruksi
    - Type Twin Tube
    - Type Mono Tube
c. Medium Kerja
    - Hidrolis
    - Pneumatis
JENIS-JENIS SUSPENSI 
Berdasarkan konstruksi pada mekanisme suspensi dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1. JENIS POROS PEJAL (RIGID AXLE SUSPENSION)
    Pada type ini poros roda kiri-kanan dipasangkan bersama pada sebuah poros diatas pegas-pegas. Suspensi model ini mempunyai konstruksi sederhana, kuat oleh karena itu banyak digunakan sebagai suspensi depan dan belakang (Mobil angkutan berat) dan suspensi belakang (Mobil penumpang)
2.JENIS POROS BEBAS (INDEPENDENT SUSPENSION)
   Pada type ini roda kiri-kanan menggantung satu sama lain dengan bebas, dimana memungkinkan tiap roda bekerja sendiri menerima kejutan-kejutan lain.


1. TYPE WISHBONE
    Type ini terdiri atas Upper Suspension Arm dan Lower Suspension Arm dengan Frame dan Steering Knuckle dengan Pegas Koil dan Peredam Kejut


2. TYPE MACPHERSON
  Type ini terdapat Upper Arm, Konstruksi sederhana da memungkinkan ruang mesin lebar
3. TYPE SWING AXLE
    Pada type ini poros dibaut dua bagian dan diberi Pivot ditengahnya sehingga dapat berayun keatas dan kebawah secara terpisah

PERAWATAN DAN PERBAIKAN

TROUBLE SHOOTING

SISTEM KEMUDI

FUNGSI
Untuk mengendalikan arah gerak kendaraan 
  
SISTEM KEMUDI DIBEDAKAN MENJADI 2 JENIS,
YAITU :
1. SISTEM KEMUDI MANUAL
2. SISTEM KEMUDI OTOMATIS (KEMUDI DAYA)

URAIAN
1. SISTEM KEMUDI MANUAL




KOMPONEN UTAMA SISTEM KEMUDI
1. STEERING WHEEL
2. STEERING COLUMN
3. STEERING GEAR
4. STEERING LINGKAGE






FUNGSI KOMPONEN UTAMA SISTEM KEMUDI
1. STEERING WHEEL
    Mengendalikan arah roda depan melalui lengan penghubung
2. STEERING COLUMN
    Untuk meneruskan arah putaran dari kemudi ke steering gear
3. STEERING GEAR
    Untuk memungkinkan roda depan dapat diarahkan sesuai dengan arah putaran kemudi yang diinginkan
4. STEERING LINGKAGE
    Sebagai penghubung untuk memindahkan tenaga putar dari steering wheel ke roda depan.

Pada dasarnya Steering Gear dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Jenis Worm and Sector Roller
b. Jenis Worm and Sector
c. Jenis Screw Pin
d. Jenis Screw and Nut
e. Jenis Recirculating Ball
KOMPONEN UTAMA SISTEM KEMUDI JENIS RECIRCULATING BALL
1. RODA KEMUDI
2. POROS UTAMA KEMUDI
3. BATANG KEMUDI
4. BAK RODA GIGI KEMUDI
5. LENGAN PITMAN
6. BATANG PENGHUBUNG
7. TIE ROD
8. LENGAN IDLER
9. LENGAN NAKEL
10. BALL JOINT SUSPENSI
11. BANTALAN ATAS




FUNGSI KOMPONEN UTAMA SISTEM KEMUDI JENIS RECIRCULATING BALL
1.   RODA KEMUDI
      Mengendalikan arah roda depan melalui lengan penghubung
2.   POROS UTAMA KEMUDI
      Mengirim gaya putar roda kemudi ke bak roda gigi kemudi
3.   BATANG KEMUDI
      Tempat Poros Utama
4.   BAK RODA GIGI KEMUDI
      Merubah gerak putar kemudi ke gerakkan maju mundur lengan penghubung
5.   LENGAN PITMAN
      digerakkan maju mundur oleh bak roda gigi kemudi dan dihubungkan dengan batang penghubung
6.   BATANG PENGHUBUNG
      Menghubungkan Tie Rod di sebelah kanan dan kiri
7.   TIE ROD
      Menghubungkan lengan nakel dan batang penghubung
8.   LENGAN IDLER
      Menunjang batang penghubung dan tie rod
9.   LENGAN NAKEL
      Mengendalikan roda depan sesuai dengan gerakkan lengan penghubung
10. BALL JOINT SUSPENSI
      Tempat berputarnya roda-roda depan
11. BANTALAN ATAS
      Tempat dudukan peredam kejut

f. Jenis Rack and Pinion
KOMPONEN UTAMA SISTEM KEMUDI JENIS RACK AND PINION
1. RODA KEMUDI
2. POROS UTAMA KEMUDI
3. BATANG KEMUDI
4. POROS INTERMEDIATE
5. RACK AND PINION
6. TIE ROD
7. SEPATU RACK
8. LENGAN NAKEL





KOMPONEN UTAMA RACK
1. BALL JOINT
2. TIE ROD
3. RACK
4. PINION
5. BOAT 






FUNGSI KOMPONEN UTAMA SISTEM KEMUDI
JENIS RACK AND PINION
1. RODA KEMUDI
    Mengendalikan arah roda depan melalui lengan penghubung
2. POROS UTAMA KEMUDI
    Mengirim gaya putar roda kemudi ke bak roda gigi kemudi
3. BATANG KEMUDI
    Merupakan tempat poros utama
4. POROS INTERMEDIATE
    Menghubungkan poros utama dan poros pinion
5. RACK AND PINION
    Menambah gaya yang dikirim dari roda kemudi dan gerakkan putar dirubah menadi gerak translasi
6. TIE ROD
    Menghubungkan lengan nakel dan batang penghubung
7. SEPATU RACK
    Mencegah masuknya lumpur dan debu kedalam mekanisme rack
8. LENGAN NAKEL
    Mengendalikan roda-roda depan sesuai dengan gerakkan lengan penghubung

SISTEM KOPLING


FUNGSI
Untuk memutus dan menghubungkan putaran mesin ke transmisi

KOPLING DIBEDAKAN DALAM BEBERAPA JENIS, YAITU :
1. KOPLING MANUAL


KOMPONEN UTAMA KOPLING
1. RODA GILA
2. PLAT KOPLING
3. PLAT PENEKAN
4. PEGAS DIAFRAGHMA
5. TUTUP KOPLING
6. BANTALAN PEMBEBAS
7. GARPU PEMBEBAS





 FUNGSI KOMPONEN UTAMA KOPLING
1. FLY WHELL (RODA GILA)
    Tempat kedudukan sistem kopling
2. DISC CLUTCH (PLAT KOPLING)
    Media penghantar putaran dari mesin ke transmisi
3. PRESSURE PLATE (PLAT PENEKAN)
    Untuk menekan clutch disc
4. DIAFRGHMA SPRING (PEGAS DIAFRAGHMA)
    Untuk memberikan tekanan pada pressure plate
5. CLUTCH COVER (TUTUP KOPLING)
    Untuk menjepit clutch disc terhadap fly wheel
6. RELEASE BEARING (BANTALAN PEMBEBAS)
    Untuk meneruskan gaya tekan dari release fork
7. RELEASE FORK (GARPU PEMBEBAS)
    Untuk menekan release bearing sehingga menyentuh diafraghma spring

JENIS-JENIS KOPLING
1. KOPLING MANUAL
    TERDIRI DARI :
a. KOPLING SINGLE PLATE



     








b. KOPLING DOUBLE PLATE 



 









2. KOPLING AUTOMATIS

Torque Converter di digunakan pada kopling otomatis sebagai pengganti kopling manual





  






SISTEM PENGGERAK KOPLING
1. SISTEM PENGGERAK MEKANIS



Pada sistem ini tenaga yang digasilkan dorongan pedal yang menggerakkan Release Fork diteruskan langsung oleh kabel pembebas. 
Mekanisme penggerak in sekarang kurang banyak digunakan, karena memiliki kekurangan yaitu, untuk kendaraan besar seperti truk yang memerlukan kekuatan besar kurang kuat, dan penekanannnya lambat


 





2. SISTEM PENGGERAK HIDROLIK

Sistem pengggerak ini menggerakkkan Release Fork melalui mekanisme penekanan minyak rem secara Hidrolis. Sistem ini sangat efisien dan cepat dalam pemindahan tenaga dari injakan pedal ke Release Fork




 

CARA KERJA
Bila pedal kopling di pijak, minyak yang terdapat dalam silinder utama akan terdesak keluar melalui pipa, selanjutnya mendesak torak di dalam silinder slave silinder kemudian menggerakkan release fork








FUNGSI RELEASE CYLINDER 
Menggerakkan piston dengan tekanan hidrolik dari  silinder utama dan mengoperasikan release fork melaui tongkat pendorong










 PERAWATAN DAN PERBAIKAN SISTEM KOPLING
1. BUKALAH KOPLING DAN RUMAH KOPLING













2. LAKUKAN PENGUKURAN PADA FLY WHEEL MENGGUNAKAN DIAL INDIKATOR



KEOLENGAN MAKSIMUM = 0,1 mm









3. PERIKSALAH KEDALAMAN PAKU KELING PADA CLUTCH DISC DENGAN SIGMAT


KEDALAMAN PAKU KELING MINIMUM = 0,3 mm









4. PERIKSALAH PEGAS DIAFRAGHMA DARI KEAUSAN



LIMIT KEDALAMAN = 0,6 mm
LEBAR = 5,0 mm








 5. PERIKSA CELAH PRESSURE PLATE

 CELAH STANDART = 0,5 mm









6. PERIKSA KONDISI RELEASE BEARING DARI KEOLENGAN













TROUBLE SHOOTING
1. KOPLING SLIP
    - Permukaan plat kopling aus atau terbakar
    - Permukaan plat kopling terkontaminasi oleh minyak pelumas

2. KOPLING GADUH
    - Tidak terdapat pelumas pada sambungan dari sistem penggerak kopling
    - Bantalan mekanisme pelepas kopling sudah aus atau rusak

3. KOPLING MENGGESEK
    - Jarak antara kopling dengan lantai terlalu rendah
    - Permukaan plat kopling rusak

SISTEM TRANSMISI

PENEMU TRANSMISI : LOUIS-RENE PANHARD dan EMILE LEVASSOR

Fungsi : Untuk memutus dan menghubungkan putaran mesin sehingga kendaraan dapat berhenti, meskipun mesin tetap dalam keadaan hidup

SISTEM TRANSMISI DI BEDAKAN MENJADI 2 JENIS YAITU :
1. SISTEM TRANSMISI MANUAL
    1. Slidingmesh Type
    2. Constantemesh Type
    3. Syncromesh Type
    
2. SISTEM TRANSMISI OTOMATIS
    1. Manumatic Type
    2. Semi Automatic type
    3. Elelctro Hidraulic Type
    4. Dual Clutch Type

URAIAN
1. TRANSMISI MANUAL
 
Transmisi Manual terdiri dari empat komponen utama, yaitu :
1. Input Shaft
2. Output Shaft
3. Counter Gear
4. Reverse Gear











Sistem Transmisi Manual dikenal juga sebagai transmisi "Gearbox" yang terdiri dari :
1, Transmisi Sekuensial
2, Transmisi Non Sekuensial
3. Transmisi tanpa Sinkronisasi
4. Transmisi dengan Sinkronisasi
4. Transmisi Pre Selektor

JENIS-JENIS TRANSMISI MANUAL
1. SLIDINGMESH TYPE
Jenis ini merupakan dasar pertama kali ditemukannya transmisi, dengan konstruksi yang sangat sederhana. Transmisi jenis ini sudah tidak lagi dikembangkan, walaupun demikian jenis ini masih sering digunakan dan terbatas hanya untuk gear percepatan dan mundur





2. CONTSTANTMESH TYPE
Jenis ini merupakan pengembangan dari jenis slidingmesh type, dimana bentu gear tidak lagi lurus melainkan helical, walaupun demikian saat perpindahan gera masih terjadi kesukaran
Dinamakan constantmesh type karena counter gear selalu berkaitan atau berhubungan dengan gear pada main shaft. sedangkan gear pada main shaft dihubungkan dengan perantara bearing sehingga gear dan main shaft dapat berputar bebas.


 
3. SYNCROMESH TYPE

Transmisi jenis ini mempunyai konstruksi seperti jenis constantmesh. pada jenis ini untuk memindahkan putaran dari main gear ke main shaft digunakan syncromesh, sehingga perpindahan putaran dapat dilakukan dengan mudah pada berbagai kecepatan.







JENIS-JENIS TRANSMISI AUTOMATIC
    1. MANUMATIC TYPE

Transmisi Manumatic berasal dari kata "Manual" dan "Automatic"
Pada transmisi ini pengemudi cukup memilih tanda (+) untuk menaikan rasio perpindahan gigi dan tanda (-) untuk menurunkan rasio perpindahan gigi.
Perpindahan gigi terjadi secara sekuensial











2, SEMI AUTOMATIC TYPE

Pada Transmisi ini menggunakan Sensor Elektrik, Sistem Pneumatik dan Prosesor, serta Actuator untuk mengeksekusi perintah pengemudi saat memindahkan rasio perpindahan gigi transmisi











3. ELEKTRO HIDRAULIC TYPE

Transmisi ini merupakan transmisi buatan Jepang yang dikenal dengan "HondaMatic"
Pada transmisi ini terdapat komponen Pompa Hidraulic, Hidraulic Motor Piston dan jugaPompa Swash Plate yang bekerja menyerupai cara kerja sistem AC jenis Swash Plate







4. DUAL CLUTCH TYPE

Pada transmisi ini terdapat dua buah kopling yang saling terhubung dalam satu poros Infut Shaft.












MEKANISME PEMINDAH GIGI

1. JENIS PENGONTROL REMOTE
    1. COLUMN SHIFT TYPE
Pada jenis ini tuas pemindah terpisah dengan transmisi, tuas pemindah berada di batang kemudi













2. FLOOR SHIFT TYPE
Pada jenis ini posisi tuas pemindah berada tepat di lantai bagian bawah dari kemudi















 2. JENIS PENGONTROL LANGSUNG


Pada jenis ini tuas pemindah gear transmisi berada langsung pada transmisi sehingga proses pemindahan gear transmisi dapat dikontrol dengan baik







KERUSAKAN-KERUSAKAN TRANSMISI
1. GEAR SUKAR DI PINDAHKAN
2. SAMBUNGAN GEAR RUSAK
3. TERDENGAR BUNYI-BUNYI

Sunday, March 2, 2014

Dasar Kelistrikan Otomotif

Dasar kelistrikan otomotif Presentation Transcript

1. Basic Electrical Basic Mechanic Course Issued By Product Training Center Department, PT. Kobexindo Tractors. Jl. Garuda No.19 Kemayoran Jakarta Pusat 10620. Gedung Kobexindo, Jl. Raya Bekasi-Kerawang Km.58 Cikarang Timur. BEKASI 17823
2. KONSEP KELISTRIKAN (2)
3. KONSEP KELISTRIKAN (3)
4. Air yang mengalir pada suatu pipa dipengaruhi oleh besarnya dorongan yang menyebabkan air tersebut mengalir dan besarnya hambatan pada pipa. Besarnya dorongan untuk mengalir ditimbulkan oleh perbedaan ketinggian air di kedua wadah. Mutu permukaan pipa x panjang pipa Hambatan alir = -------------------------------------------------Panjang pipa Dalam kelistrikan, - Hambatan alir = Resistansi ( R ) - Mutu permukaan dalam pipa = nilai hambat jenis (specific resistivity) / ρ (rho). Nilai hambatan yang timbul akibat jenis bahan yang digunakan sebagai penghantar. - Luas penampang pipa = luas penampang kawat, A (meter). - Panjang pipa = panjang penghantar, dilambangkan dengan l. Rumus : ρxl R = --------A
5. TEGANGAN ( VOLTAGE )
6. CARA MENGUKUR TEGANGAN
7. RESISTANSI Resistansi : apapun yang menghambat aliran arus listrik dan mempengaruhi besarnya arus yang dapat mengalir. Pada dasarnya semua material adalah konduktor, namun resistansi-lah yang menyebabkan sebagian material dikatakan isolator, karena memiliki resistansi yang besar dan sebagian lagi disebut konduktor, karena memiliki resistansi yang kecil. Resistansi ada pada kawat, kabel, body unit alat berat, namun nilainya ditekan sekecil mungkin dengan menggunakan logam-logam tertentu yang memiliki nilai ρ yang rendah. Resistansi ada yang dibuat dengan sengaja untuk mengatur besarnya arus listrik yang mengalir pada rangkaian tertentu, disebut Resistor. Resistor dibagi menjadi dua jenis : 1. Resistor tetap ( fixed resistor ) 2. Resistor variabel ( variable resistor ) Variable resistor terdiri dari beberapa macam : a.      Rotary-type Resistor b. LDR ( Light Dependent Resistor ) c. Thermistor , terdiri dari : c.1. NTC ( Negative Temperture Coeficient ) Thermistor c.2. PTC ( positive Temperature Coeficient ) Thermistor Daya maksimum resistor karbon : ¼ watt, ½ watt, 1 watt, 5 watt dan 10 watt. Arti : bila suatu resistor ½ watt dan nilai hambatan 200Ω, maka hanya dapat diberi suplai listrik langsung bertegangan : V = √(P x R) = √(1/2 x 200) = √100 = 10 Volt
8. CARA MEMBACA NILAI RESISTOR
9. RANGKAIAN RESISTOR
10. ARUS LISTRIK
11. CARA MENGHITUNG ARUS LISTRIK Rumus arus listrik pada rangkaian seri : Rumus arus listrik pada rangkaian paralel : Pada rangkaian kombinasi antara paralel dan seri :
12. CARA MENGUKUR ARUS LISTRIK
13. HUKUM OHM (OHM’S LAW)
14. PENGATURAN TEGANGAN Pengaturan tegangan dengan kombinasi resistor / variable resistor Dengan menyusun dua buah resistor seperti gambar, kita dapat mengubah tegangan yang keluar di titik B, tanpa mengganggu kerja dari rangkaian lainnya. Tegangan output dapat dicari secara teoritis dengan rurmus : Jadi misalnya kita ingin mendapat tegangan 12 V dari rangkaian di samping, maka kita dapat pasangkan R1=200 Ω dan R2=200 Ω, atau R1 = 2000 Ω dan R2= 2000 Ω. Model pengaturan dapat diterapkan pada sumber listrik AC maupun DC, namun besarnya daya listrik outputnya relatif kecil.
15. PENGATURAN MENGGUNAKAN TRANSFORMATOR
16. PENGATURAN MENGGUNAKAN IC
17. Pengukuran tegangan kerja Pengukuran kuat arus terpakai
18. Pengukuran tegangan jatuh Pengukuran kotinyuitas
19. THERMISTOR Themistor memiliki dua jenis , yaitu : NTC ( Negative Temperature Coefficient ) thermistor PTC ( Positive Temperature Coefficient ) thermistor.
20. DIODA Dioda merupakan komponen semikonduktor yang memungkinkan arus listrik mengalir pada satu arah ( forward bias) yaitu, dari arah anoda ke katoda, dan mencegah arus listrik mengalir pada arah yag berlawanansebaliknya (reverse bias).
21. Dioda digunakan untuk : 1. Mencegah “tertularnya” suatu rangkaian listrik akibat aktivitas rangkaian listrik yang lain. 2. Mencegah terjadinya gangguan atau kerusakan pada rangkaian elektronik yang sensitif , akibat timbulnya kejutan listrik yang ditimbulkan oleh gaya gerak listrik balik ( back electromotive force). 3. Sirkuit logika. 4. Penyearahan arus.
22. APLIKASI DIODA (2) : SIRKUIT LOGIKA
23. APLIKASI DIODA (3) : PENCEGAH KERUSAKAN KOMPONEN ELEKTRONIK RELAY TANPA DIODA PELINDUNG
24. RELAY DENGAN DIODA PELINDUNG
25. APLIKASI DIODA (4) : PENYEARAH ARUS/PENGUBAH AC KE DC
26. LIGHT EMITTING DIODE ( LED )
27. ZENER DIODE
28. APLIKASI ZENER DIODE : REGULATOR PADA ALTERNATOR
29. PERSAMAAN KONSEP REGULASI TEGANGAN SAAT PRESSURE PADA SISTEM KURANG DARI 28 BAR
30. PERSAMAAN KONSEP REGULASI TEGANGAN : SAAT PRESSURE PADA SISTEM MENCAPAI 28 BAR
31. KAPASITOR Kapasitor dapat menyimpan energi listrik dalam jangka waktu tertentu dan muatan tersebut akan habis setelah beberapa saat. Besarnya kapasitas kapasitor diukur dalam satuan microfarad (µF), nanofarad (nF), dan pikofarad (pF). Kapasitor memiliki dua jenis : 1. Kapasitor polar ( DC ) 1 ; 2,2 ; 3,3 ; 4,7 ; 6,8 ; 10 ; 100 ; 1000 ; 10.000 microfarad 10V, 25V, 35V, 50V, 100V 2. Kapasitor non polar (AC) 250V sampai 750V Dua ketentuan praktis : 1. Kapasitor yang kosong muatan bertindak seolah-olah konduktor (penghantar). 2. Kapasitor yang penuh muatan bertndak seolah-olah isolator.
32. PRINSIP KAPASITOR
33. PRINSIP KAPASITOR (2)
34. APLIKASI KAPASITOR ( PENSTABIL TEGANGAN )
35. APLIKASI KAPASITOR : PENUNDAAN
36. APLIKASI KAPASITOR ( PEREDAM KEJUTAN LISTRIK )
37. TRANSISTOR Transistor merupakan kependekan dari Transfer Resistor, atau suatu komponen elektronika yang dapat mengalirkan atau memutuskan aliran arus yang besar dengan pengendalian arus listrik yang relatif sangat kecil, dengan mengubah resistansi lintasannya. KELEBIHAN : 1. Arus pengendali pada transistor jauh lebih kecil sehingga lebih mudah mengendalikannya. 2. Transistor tidak menggunakan kontak mekanis, sehingga tidak menimbulkan percikan api dan lebih tahan lama. 3. Ukuran transistor relatif lebih kecil dan kompak dibanding relay. 4. dapat bekerja pada tegangan kerja yang bervariasi. KELEMAHAN : 1. Kesalahan penghubungan kaki transistor akan berakibat kerusakan permanen. 2. Panas yang dihasilkan pada transistor lebih besar sehingga bila tidak diberi pendinginan yang cukup, akan memperpendek usia transistor. TRANSISTOR TERDIRI DARI JENIS : 1. Tipe NPN 2. Tipe PNP Perbandingan besarnya IB-E dengan IC-E menghasilkan Hfe, yaitu nilai penguatan transistor, yang dirumuskan sebagai berikut : IC-E Hfe = ---------IB-E
38. Study kasus : Sebuah lampu dengan daya 48 Watt akan dinyalakan oleh rangkaian transistor pada tegangan kerja 24 V. transistor yang digunakan bertipe NPN dan memiliki Hfe = 200. Jawab : Kuat arus yang dibutuhkan oleh lampu adalah : P 48 Watt I = ------ = -------------- = 2 A. V 24 V Berarti arus yang akan dilewatkan pada transistor ( dari kaki Kolektor ke Emitor atau I C-E ) sebesar 2 A. Dengan nilai penguatan atau Hfe 200, maka kuat arus yang mengalir pada kaki Basis harus sebesar : IC-E Hfe = ---------IB-E IB-E IC-E 2A = --------- = ------------ = 0,01 A Hfe 200 agar arus listrik yang mengalir di kaki Basis hanya sebesar 0,01 A, maka kita butuhkan sebuah resistor dengan ukuran : V V 24 V R = -------- = ---------- = ----------- = 2400 Ω atau 2,4 kΩ I IB-E 0,01 A
39. PERCOBAAN
40. PRINSIP KERJA TRANSISTOR NPN
41. PRINSIP KERJA TRANSISTOR PNP
42. CARA KERJA PRAKTIS TRANSISTOR PNP
43. CARA KERJA PRAKTIS TRANSISTOR NPN
44. SENSOR Sensor berguna untuk mengindera parameter-parameter (besaran- besaran) vital dari suatu objek pengendalian (engine,transmisi), mengubahnya menjadi sinyal listrik yang kemudian akan dikirim ke ECU (Electronic Control Unit) sebagai informasi untuk diolah lebih lanjut. Parameter-parameter tersebut meliputi : 1. Suhu 2. Tekanan (pressure) 3. Posisi 4. Level 5. Kecepatan (speed) 6. Kandungan/konsentrasi zat terkandung. 7. Tegangan logam (tension) 8. Getaran (knocking)
45. PRESSURE SENSOR
46. PRESSURE SWITCH Pressure sensor mengirimkan sinyal berupa tegangan (voltage) yang berfluktuasi, sehingga setiap perubahan pada pressure dapat dideteksi, sedangkan pressure switch hanya mengirimkan sinyal ON dan OFF saja.
47. TEMPERATURE SENSOR Temperature sensor menggunakan bahan semikonduktor yang terbuat dari bahan Galium Arsenida (GaAs) yang peka suhu
48. POSITION SENSOR Terdapat beberapa desain dari position sensor : 1. Menggunakan slitted disc dan photodiode 2. Menggunakan toothed gear dan induction sensor 3.      Menggunakan rotary variable resistor
49. SPEED SENSOR
50. MICROPROCESSOR Microprocessor merupakan otak dari Electronic control unit (ECU). Terdiri dari rangkaian-rangkaian transistor yang kompleks yang dapat menangani pengolahan sinyal yang diterima dari sensor-sensor Microprocessor menentukan tindakan apa yang perlu diambil berdasarkan masukan aktual dari sensor dan diperbandingkan dengan data yang tersimpan di memorynya (merupakan ‘bekal’ dari pabrik pembuat). Microprocessor hanya bekerja dengan sinyal-sinyal digital, dimana denyut kecepatan prosesnya ditentukan dari pembangkit denyut (seperti jantung) yang disebut Clock. Makin tinggi nilai clock, makin cepat reaksi microprocessor bekerja, sehingga makin banyak tindakan yang terselesaikan tiap detiknya.
51. ROM : Read-Only Memory : yaitu memory yang berisi data yang telah baku yang diisikan oleh pabrik pembuat ECU. ROM menyimpan data-data spesifikasi pabrik yang akan tetap tersimpan walaupun ROM tidak mendapat suplai listrik (kunci kontak dan master switch off). RAM : Random-Access Memory : yaitu memory yang berisi data temporer yang dituliskan oleh ECU selama ECU bekerja. Data tersebut disimpan oleh ECU untuk keperluan penyimpanan error Dan nilai-nilai (parameter) tertentu yang selalu aktual. Data yang tersimpan dalam RAM akan hilang bila RAM tidak mendapat suplai listrik (reset). PROM : Programmable Read-Only Memory : yaitu memory yang berisi data yang dapat diubah-ubah nilainya dalam jangkah tertentu yang telah disediakan, misalkan pengubahan unit satuan. Data yang tersimpan dalam PROM akan tetap tersimpan walau PROM tidak mendapat suplai listrik.
52. PENGOLAHAN INFORMASI Microprocessor memproses informasi dan memutuskan tindakan yang tepat sesuai program yang telah ditentukan oleh pabrik. Untuk dapat mengambil keputusan , microprocessor harus menerima informasi dari berbagai sensor. Microprocessor tidak selalu dapat memproses informasi tersebut dengan segera, untuk itu informasi tersebut disimpan sementara di dalam RAM dalam address-address tertentu. Untuk membaca informasi dari RAM, microprocessor menentukan terlebih dahulu lokasi address dimana informasi yang diinginkan disimpan, dan melakukan permintaan. Untuk memproses informasi, microprocessor membaca semua masukan dari sensor-sensor, mengambil nilainya – dan sesuai program, memerintahkan aktuator atau instrument display untuk melakukan tugasnya. Microprocessor juga menguji masukan-masukan untuk memastikan bahwa sirkuit pengirim data tersebut bekerja dengan normal. Ia telah diprogram agar dapat mengenali masukan data dengan mengetahui jangkah (range)/kisaran tegangan listrik yang normal. Jika nilai dari infomasi tersebut diluar range, microprocessor akan menduga adanya masalah pada sensor dan sirkuit yang bersangkutan, lalu mengirim sinyal gangguan (error code) ke instrument display. Microprocessor juga selalu melaksanakan POST (power on self test) setiap memulai kerjanya. Microprocessor menggunakan control loop untuk menghasilkan suatu proses yang cepat, otomatis dan akurat. Control loop adalah suatu siklus dimana proses dapat dikontrol oleh masukan input, pengolahan data, dan keluaran (output) dari perintah tertentu untuk mengendalikan suatu perangkat aktuator. Terdapat dua loop yang digunakan, yaitu open loop dan closed loop. Closed loop merupakan loop yang komplit. Dilengkapi dengan sensor feedback yang akan ‘memata-matai’ pelaksanaan pekerjaan yang diperintahkan microprocessor kepada suatu aktuator. Open loop hanya digunakan saat objek pengendalian (engine, transmisi) dalam keadaan belum memenuhi kondisi kerja optimum, seperti suhu kerja belum tercapai. Pada saat ini sensor feedback belum dapat menghasilkan informasi pemantauan yang akurat (juga disebabkan karena sensor-sensor tertentu belum siap bekerja).
53. Wiring Diagram Electrical Standard Jungheinrich